Sabtu, 01 Januari 2011

KERAJAAN ISLAM SEBELUM PENJAJAHAN BELANDA

BAB  I

KERAJAAN – KERAJAAN  ISLAM
SEBELUM  PENJAJAHAN  BELANDA


I.   KERAJAAN – KERAJAAN ISLAM PERTAMA DI SUMATRA
A.    Samudra Pasai
Kerajaan Islam pertama di Indonesia adalah kerajaan samudra pasai yang merupakan kerajaan kembar, kerajaan ini terletak di pesisir timur laut Aceh. Kemunculan sebagai kerajaan Islam mulai awal atau pertengahan abat ke-13 M. sebagai hasil dari proses islamisasi daerah – daerah pantai yang pernah disinggahi pedagang – pedaagang muslim sejak abat ke-7, samudra pasai berdiri sejak abat ke-13 M didukung oleh adanya nisan kubur dibuat dari granit asal samudra pasai.
Pendiri Kerajaan Samudra Pasai adalah Malik Al-Saleh, hal ini di ketahui melalui tradisi hikayat raja – raja pasai, hikayat melayu dan hasil penelitian yang dihasilkan sarjana – sarjana barat khususnya para sarjana Belanda, seperti Snouck Hurgronye, J.P. Molquette, J.L. Moens, J. Hushoff Poll, dll. Dari segi peta politik munculnya Kerajaan Samudra Pasai, itu sejalan dengan suramnya peranan maritim, Kerajaan Sriwijaya yang sebelumnya memegang peranan penting dikawasan samudra dan sekelilingnya.
Dalam hakekat Raja – Raja Pasai disebutkan Gelar Malik Al-Saleh sebelum menjadi Raja adalah Merah Sile atau Merah Selu, ia masuk Islam berkat pertemuannya dengan Syaikh Ismail seorang utusan syarif mekah,
yang kemudian memberikan gelar Malik Al-Saleh. Nisan kubur itu didapatkan di Gampong Samudra bekas Kerajaan Samudra Pasai.
Kerajaan Samudra Pasai berlangsung sampai tahun 1524 M, pada tahun 1521 M, Kerajaan ini ditaklukkan oleh Portugis yang mendudukinya selama tiga tahun, kemudian tahun 1524 M, di Aknesasi oleh Raja Aceh. Ali Mughayatsyah. Selanjutnya Kerajaan Samudra Pasai berada dibawah pengaruh Kesultanan Aceh yang berpusat di Bandar Aceh Darusalam.

A.    Aceh Darusalam
Kerajaan ini terletak di Daerah yang sekarang ini terkenal dengan nama Kabupaten Aceh Besar, sekaligus Ibu kotanya. Anas Machmud berpendapat Kerajaan Aceh berdiri pada Abat ke-15 M diatas puing – puing Kerajaan Lamuri oleh Muzaffarsyah ( 1465 – 1497 M ) dialah yang membangun Kota Aceh Darusalam.
Menurut H.J. De Graaf , Aceh menerima Islam dari Pasai yang kini menjadi bagian Wilayah Aceh dan pergantian Agama diperkirakan terjadi mendekati Abat ke-14, menurutnya Kerajaan Aceh merupakan penyatuan dari dua Kerajaan kecil, yaitu Lamuri dan Dar Al-Kamal ia juga berpendapat bahwa Rajanya adalah Ali Mughayat Syah.
Puncak kekuasaan Kerajaan Aceh terletak pada masa Pemerintahan Sultan Iskandar Muda ( 1608 – 1637 ), pada masanya Aceh menguasai seluruh pelabuhan di pesisir timur dan barat Sumatra. Dari Aceh tanah Gayo yang berbatasan di Islamkan, juga Minang kabau, hanya orang-orang kafir batak yang berusaha menangkis kekuatan. Kekuatan Islam yang datang bahkan mereka melangkah lebih jauh sampai meminta bantuan dari protugis.

2.   TUMBUH DAN BERKEMBANGNYA KERAJAAN – KERAJAAN
       ISLAM DI JAWA
A.    Demak
Sebagaimana telah disebutkan dalam bab terdahulu perkembangan Islam dijawa bersama waktunya dengan melemahnya posisi Maja Pahit. Dibawah Pimpinan Sunan Ampel Denta Wali Songo bersepakat mengangkat Raden Patah menjadi Raja Pertama Kerajaan Demak. Kerajaan Islam di Jawa dengan Gelar Senopati Jimbun Ngabdurahman penembahan Palembang Sayidin Panatagama sebelumnya. Demak yang masih bernama bintara merupakan Daerah Maja Pahit yang diberikan Raja Maja Pahit kepada Raden Patah.
Pemerintahan  Raden Patah berlangsung kira – kira di akhir abat ke-15 hingga awal abat ke-16, menurut Tome Pires Pati Unus baru berumur 17 tahun ketika menggantikan ayahnya sekitar tahun 1507. Menurutnya tidak lama setelah naik tahta ia merencanakan suatu serangan terhadap malaka. Semangat perangnya semakin memuncak ketika malaka ditaklukkan oleh protugis pada tahun 1511, akan tetapi sekitar pergantian tahun 1512 – 1513 tentaranya mengalami kekalahan besar. Pati Unus digantikan oleh Trenggono yang dilantik sebagai Sultan oleh Sunan Gunung Jati dengan Gelar Sultan Ahmad Abdul Arifin. Pada
masa Sultan Demak yang ketiga inilah Islam dikembangkan keseluruh tanah Jawa. Bahkan sampai ke Kalimantan Selatan. Majapahit dan Tabun jatuh dibawah kekuasaan Kerajaan Demak diperkirakan tahun 1527, itu juga selanjutnya pada tahun 1529, Demak berhasil menundukkan Madiun Bloro (1530), Surabaya (1531), Pasuruan (1535), dan antara tahun 1541 – 1542 Lamongan, Blitar, Wirasaba dan Kediri (1544). Pada tahun 1546 dakim penyerbuan keblambangan Sultan Trenggono terbunuh ia digantikan adiknya Prawoto Kerajaan Demak berakhir dan dilanjutkan oleh Kerajaan Pujang dibawah Jaka Tingkir yang berhasil membunuh Aria Penagsang.
B.    Pujang
Kesultanan Pujang adalah pelanjut dan dipandang sebagai pewaris Kerajaan Islam Demak, usia Kesultanan ini tidak panjang, kekuasaan dan kebesarannya kemudian diambil alih oleh Kerajaan Mataram.
Sultan atau Raja pertama Kerajaan ini kesultanan ini adalah Jaka Tingkir yang berasal dari Pengging di lereng Gunung Merapi, oleh Sultan Trenggo Jaka Tingkir diangkat menjadi penguasa dipujang sebelumnya dikawinkan dengan anak perempuannya.
Pada tahun 1546 Sultan Demak meninggal dunia setelah itu muncul kekacauan di Ibu Kota, Jaka Tingkir yang telah menjadi penguasa Pujang segera mengambil alih kekuasaan karena anak sulung Sultan Trenggono yang menjadi pewaris Tahta Kesultanan, Aria Penangsang yang waktu itu menjadi penguasa di jipang ( Bojonegoro sekarang ).
Sultan Adiwijaya memperluas kekuasaannya diarah pedalaman kearah timur sampai Daerah Madiun. Pada tahun 1581, ia berhasil mendapatkan pengukuan sebagai Sultan Islam dari Raja-Raja terpenting di Jawa Timur. Selama Pemerintahan Sultan Adiwijaya kesusastraan dan kesenian kraton yang sudah maju di Demak dan  Jepara lambat laun dikenal di pedalaman Jawa.
Sultan Pujang meninggal dunia tahun 1587 dan dimakamkan di barat, suatu daerah disebelah barat taman kerajaan Pujang, dia digantikan oleh menantunya Aria Pangin anak Sultan Adiwijaya pangeran Benawa dijadikan penguasa di Jipang. Pada tahun 1588, usahanya berhasil. Senopati menyatakan keinginannya untuk tetap tinggal di Mataram ia hanya minta pasukan Kerajaan Pujang Pangeran Benawa kemudian dikukuhkan sebagai Raja Pujang.
Riwayat Kerajaan Pujang berakhir tahun 1618 Kerajaan Pujang waktu itu memberontak terhadap Mataram yang ketika itu di bawah Sultan Agung Pujang dihancurkan Rajanya melarikan diri ke Giri dan Surabaya.
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar